Mencegah Darah Tinggi – Restoran Membatasi Sajian Garam & Gula

Berita 0 Comments

MULAI tahun 2019 mendatang, semua restoran dan rumah makan harus membatasi sajian gula, garam dan lemak untuk para tamunya. Tujuannya untuk mencegah darah tinggi dalam masyarakat.

Jumlah penderita darah tinggi di Indonesia cukup besar. Efek dari penyakit darah tinggi yang tidak terkendali adalah terjadi penyakit stroke. Kini, banyak orang menderita stroke akibat tensi darahnya tidak dikendalikan dengan baik.

Ini terjadi akibat gaya hidup dan pola makan yang tidak sehat. Antara lain sering dan suka mengonsumsi makanan minuman dengan kandungan gula, garam dan lemak yang tinggi.

Ketiga sajian makanan itu penyebab utama meningkatnya tensi darah yang akhirnya membuat penderita stroke.

Melindungi Konsumen/Masyarakat dari Darah Tinggi

mencegah darah tinggi

(foto:kaskus.co.id)

Aturan bahwa restoran dan rumah makan harus membatasi sajian gula, garam dan lemak sesungguhnya sudah tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 30 Tahun 2013.

Isinya tentang Pencantuman Informasi Kandungan Gula, Garam, dan Lemak dalam Makanan mulai wajib diterapkan pada tahun 2019 oleh Seluruh Pelaku Industri Pangan dan Olahan Siap Saji.

Peraturan tersebut sebagai upaya agar masyarakat dapat menentukan batasan-batasan gula, garam, dan lemak sesuai dengan kebutuhan tubuh dan sesuai dengan ketentuan kesehatan.

Berhubungan dengan pembatasan gula, garam, dan lemak, maka setiap restoran atau rumah makan lain juga diharapkan menyajikan gula dan garam dengan porsi secukupnya. Aturan ini bertujuan melindungi konsumen agar tidak mengkonsumsi gula dan garam berlebihan.

“Kami perkenalkan soal pembatasan gula, garam, dan lemak dan mencoba mendekati (memberi pemahaman) ke restoran-restoran. Contohnya, jika menyajikan gula dan garam di meja, harus diusahakan porsinya kecil saja. Jangan besar-besar porsinya,” kata Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI, Kirana Pritasari setelah upacara puncak Hari Kesehatan Nasional Ke-54 di Gelora Bung Karno, Jakarta, beberapa hari lalu.

Garam dan Gula Jangan Diletakkan di Meja Makan

Tidak hanya di restoran dan di rumah makan. Para ibu rumah tangga sebaiknya juga tidak menaruh persediaan gula dan garam di atas meja makan. Cara ini untuk menghindari penambahan gula dan garam dengan bebas ketika anggota keluarga sedang makan.

“Gula dan garam jangan ditaruh di meja makan. Nanti jadi kebiasaan menambah gula atau garam. Merasa kurang asin sedikit, tambahkan garam,” tambah Kirana.

Perlunya pembatasan konsumsi gula, garam, dan lemak kepada masyarakat juga harus disosialisasikan.

Dengan pencantuman kadar gula, garam, dan lemak pada setiap produk makanan minuman diharapkan masyarakat membiasakan diri membaca label kandungan makanan.

“Ini penting sekali. Misalnya, dalam 100 gram makanan kemasan, apa saja isi kandungannya. Untuk sekantung makanan, berapa banyak kadar gulanya,” tutur Kirana menjelaskan.

Gula selalu ada dalam berbagai produk makanan dan minuman. Misalnya, teh manis, soft drink, dan camilan lain.

Pada Permenkes Nomor 30 Tahun 2013, yang kemudian diubah melalui Permenkes 63/2015 tentang  “Pencantuman Informasi Kandungan GGL Serta Pesan Kesehatan untuk Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji’, yang harus dicantumkan berbunyi:

“Mengonsumsi gula lebih dari 50 gram, natrium lebih dari 2.000 miligram, atau lemak total lebih dari 67 gram per orang per hari berisiko hipertensi, stroke, diabetes, dan serangan jantung.”

Tiap orang harus selalu bertanya pada diri sendiri. Misalnya, hari ini kira-kira sudah berapa sendok gula tambahan yang masuk ke dalam tubuh saya?

Anda harus memastikan jumlah konsumsi gula, garam dan lemak sehingga tidak berlebihan. Sebab, mengonsumsi dalam jumlah yang melebihi kebutuhan kesehatan bisa menimbulkan berbagai risiko datangnya penyakit.

Batasi Konsumsi Gula 4 Sendok Makan, Mencegah Darah Tinggi

Guru Besar tentang Nutrisi dari IPB Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, MS menyatakan bahwa Kementerian Kesehatan RI menganjurkan dalam sehari konsumsi gula tiap orang adalah 50 gram. Atau setara dengan empat sendok makan per hari sebagai upaya mencegah darah tinggi. Anjuran WHO hanya 25 gram per hari.

“Maka, jika seorang ibu memberi cake, kue manis, atau jajanan manis kepada anaknya harus memperhatikan kesehatan anaknya. Karena makanan-makanan tersebut mengandung banyak gula,” tambahnya.

Sangat penting bagi orang tua untuk membiasakan diri dan mengajarkan kepada anaknya sejak kecil untuk membatasi asupan gula. Pola hidup sehat sejak dini dapat berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Bahkan cara itu bisa menjamin kualitas hidup si Kecil ketika sudah menginjak dewasa.

“Apabila anak telah terbiasa menerapkan pola makan sehat sejak kecil, maka pada saat dewasa akan memiliki risiko lebih rendah terhadap Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti obesitas, hipertensi, stroke, diabetes, dan serangan jantung,” kata Ali Khosman. (sumber utama dari Liputan6.com).

Contoh Beberapa Makanan Tinggi Garam dan Gula

Berikut ini beberapa contoh makanan tinggi garam dan tinggi gula yang harus Anda jauhi atau hindari. Ini adalah cara mencegah darah tinggi dengan efektif.

Contoh makanan banyak kandungan garam: sereal instan, minuman kemasan rasa buah, jus kemasan, sayuran atau buah kalengan, bumbu masak instan, produk susu, acar, pizza, produk saus, dsb.

Contoh makanan dengan banyak gula: yogurt rasa buah, salad dressing, softdrink, saus tomat kemasan/botol, selai, granola bar, aneka kue, puding, eskrim, dan permen.

Demikian informasi tentang upaya pemerintah mencegah darah tinggi dengan cara restoran harus membatasi sediaan gula, garam dan lemak untuk konsumen. Semoga cara ini benar-benar berhasil. Mampu menekan jumlah penderita darah tinggi yang terus melonjak tiap tahun.

!-- Ads 300x250 -->